PANGKALPINANG — Di tengah derasnya arus informasi media, Ivounk Media Cyber (IMC) memilih membangun kekuatan dari sisi yang berbeda. Setiap Kamis malam atau malam Jumat, jajaran manajemen hingga redaksi IMC rutin menggelar pembacaan Surah Yasin dan doa bersama selepas Magrib.
Kegiatan yang berlangsung secara rutin tersebut disebut bukan sekadar agenda seremonial, melainkan bagian dari upaya membangun landasan moral bagi insan pers dalam menjalankan tugas jurnalistik.
Pemilik sekaligus Penanggung Jawab IMC, Evan Satriady, mengatakan kegiatan tersebut menjadi momentum untuk mengingatkan seluruh jajaran media agar ketajaman pemberitaan tetap berjalan beriringan dengan tanggung jawab moral.
Menurut Evan, pekerjaan jurnalistik bukan hanya persoalan keberanian mengungkap informasi, tetapi juga menyangkut tanggung jawab terhadap kebenaran dan dampak pemberitaan kepada masyarakat.
Dalam kegiatan tersebut, struktur internal IMC juga kembali ditegaskan. A’as Asrori disebut memegang posisi sebagai Ketua IMC, sementara pembinaan moral serta arah kebijakan organisasi berada dalam pengawalan Drs. Subri, MM selaku Dewan Penasehat.
Subri menekankan bahwa integritas seorang jurnalis tidak hanya diuji ketika berhadapan dengan narasumber, pejabat maupun berbagai kepentingan di lapangan. Menurutnya, integritas juga harus dibangun melalui kebiasaan dan kedisiplinan pribadi.
Sementara itu, pembacaan Yasin dan doa bersama dipimpin langsung oleh Ustadz Mus Mulyadi, S.Ag, yang juga menjabat sebagai Dewan Redaksi IMC. Kehadiran unsur keagamaan tersebut menjadi bagian dari upaya IMC memadukan nilai spiritual dengan tanggung jawab jurnalistik.
Namun, aktivitas spiritual tersebut tetap menghadirkan tantangan bagi IMC: nilai-nilai yang dibangun di ruang internal harus tercermin dalam produk jurnalistik yang independen, berimbang, akurat, dan sesuai kode etik.
Dengan demikian, ukuran utama bukan semata seberapa rutin kegiatan keagamaan dilakukan, tetapi bagaimana nilai tersebut diwujudkan ketika para jurnalis berada di lapangan—saat mencari fakta, melakukan konfirmasi, menghadapi tekanan, dan menyajikan informasi kepada publik.
Manajemen IMC menegaskan bahwa kegiatan Yasinan tersebut justru dimaksudkan sebagai pengingat agar jajaran media tetap berani menjalankan fungsi kontrol sosial tanpa meninggalkan koridor etika jurnalistik.
Pada akhirnya, ketajaman pena membutuhkan keberanian, tetapi keberanian tanpa integritas dapat kehilangan arah. Bagi IMC, spiritualitas dan profesionalisme jurnalistik diharapkan berjalan beriringan: kritis dalam mencari fakta, berimbang dalam pemberitaan, dan bertanggung jawab terhadap publik.Kalau ingin, berita ini juga bisa dibuat lebih investigatif dan “menggigit”, dengan fokus pada bagaimana IMC menerjemahkan nilai spiritual tersebut ke dalam praktik jurnalistik sehari-hari.
Redaksi Barometer86com





